Minggu, 25 Oktober 2009

MY BIKE

Di kayuh lah sepeda lama.. Warnanya usang bak pengelana...
Jadi derita di payung kerudung.. Aduhai mentari terik sekali,..

Di kayuh lah sepeda lama..
Berkelana di lembah awam jauhi hayalan..
Jalan setapak di hadapan muka..
Sang peluh jatuh berlinang tenang...

Di kayuh lah sepeda lama..
Warna ku pudar tak lama.. Sungguh tak ada hawa.. Aromanya nuansa pengelana..

Di kayuh lah sepeda lama...

MY OLD MAN

Ku anggap rendah di genggaman ku..
Ku tebas habis rasa malu mu..
Ku raih empedu,.agar keluh lidah mu..

Berharaplah...
Lalu suguhkanlah tangan layu mu..
Buka lebar aib mu..
Biar kata dan derita jadi sandaran mu...

Tengok cucu mu "sang pengemis lugu".. Tak pilu kah hatimu di kala ia menawar janjimu...

Tengok tuhan mu "sang pengemis lugu"... Bekukah hati mu dikala ia pejamkan dunia ini...
Sungguh anda keliru tuan peminta!!.... Buka lah akal mu...
Sungguh tanpa wajah kau hadir di tempat-nya... Dan perlahan kau di rayu ragu.. "surga kah tempat mu.,. Atau neraka penghulu mu..."

Tengok aku "sang pengemis lugu"...

Aku malu...

MY LORD

Ukiran mu..
Hanyalah keluh kesah bagi lentera pemuda..aduhai putri di hiasan wajah..
Tak riskan ku hapus gemerlap abu di kening itu.. Meski lewat caci maki di jejalkan pada hati... Berkaca-kacalah nampak kau di buatnya...

"Aku bersalah..."

Oh...jelas tidak tuanku..
Tanyakan pada rembulan palsu... Warna redup apa yang selalu ku endap di bawah bajumu...

Tidak kah kau rasa...
Itu pengabdianku..

Lantas langit menjerit...
Kaupun harus sembunyi...di bawah senandung pelindung panglima..

Biar ku siapkan api membara sebagai balasannya...

Sabtu, 24 Oktober 2009

Cakram Debu di 51 Ophiuchi

Menggunakan teleskop kembar berdiameter 10 meter di Observatorium W.M. Keck, Hawaii, para astronom telah menemukan salah satu dari cakram debu paling kompak yang mengedari sebuah bintang. Apabila berada di dalam tata surya kita, maka cakram itu akan membentang sekitar empat kali jarak Bumi ke Matahari, hingga mendekati orbit planet Jupiter. Cakram bagian dalam yang kompak tersebut juga ditemani oleh cakram luar yang terentang hingga ratusan kali lebih jauh.

Kunci keberhasilan studi ini adalah Keck Interferometer Nuller (KIN), suatu perangkat yang mengkombinasikan cahaya yang tertangkap oleh masing-masing teleskop raksasa tersebut, sedemikian rupa sehingga memungkinkan para peneliti mempelajari objek redup yang biasanya tenggelam oleh cemerlangnya cahaya bintang di dekatnya. “Ini adalah cakram kompak pertama yang dideteksi oleh KIN, dan menunjukkan kemampuannya untuk mendeteksi kabut debu yang ratusan kali lebih kecil daripada yang bisa dilihat oleh teleskop konvensional,” jelas Christopher Stark, astronom di Goddard Space Flight Center, NASA, di Greenbelt, Madison, yang memimpin tim peneliti.

Dengan menggabungkan pancaran cahaya yang diterima oleh kedua teleskop dengan cara tertentu, KIN pada dasarnya membuat suatu “blind spot” yang menghalangi pancaran cahaya bintang yang tak diperlukan namun memungkinkan sinyal redup yang berdekatan – seperti cahaya dari cakram debu yang melingkupi bintang – untuk menembusnya.

Pada bulan April 2007, tim yang sama mengamati bintang target, 51 Ophiuchi, bintang tipe B yang muda dan panas sejauh 410 tahun cahya di konstelasi Ophiuchus. Para astronom menduga bahwa bintang tersebut beserta cakram yang melingkupinya merepresentasikan contoh yang langka dan dekat dari sistem planeter muda yang sedang memasuki fase terakhir dari pembentukan planet-planetnya, walaupun masih belum diketajio apakah planet-planet tersebut benar-benar telah membentuk.

“Observasi terkini kami menunjukkan bahwa 51 Ophiuchi adalah sistem protoplanet (calon planet) yang indah dengan suatu kabut debut dari komet dan asteroid yang sangat dekat dengan bintang induknya,” timpal Marc Kuchner, astronom di Goddard yang juga anggota dari tim peneliti.

Sistem planeter adalah tempat yang sangat berdebu. Kebanyakan diantara debu di tata surya kita terbentuk didalam garis orbit Jupiter, saat komet-komet mengalami kehancuran di dekat Matahari dan asteroid dalam berbagai ukuran saling berbenturan. Kabut ini merefleksikan cahaya matahari dan sewaktu-waktu dapat dilihat sebagai pendar cahaya di langit – dikenal sebagai cahaya zodiak (zodiacal light) – sebelum matahari terbit atau terbenam.

Kabut debu di sekeliling bintang lain yang terbentuk melalui proses yang sama disebut sebagai kabut “exozodiacal”. “Studi kami menunjukkan bahwa cakram di 51 Ophiuchi lebih dari 100.000 kali lebih tebal daripada kabut zodiak di tata surya kita,” jelas Stark. “Hal ini menunjukkan bahwa sistem ini masih relatif muda, dengan banyak benda angkasa yang saling berbenturan yang menghasilkan sejumlah besar debu.”

Untuk menguraikan struktur dari kabut debu bintang tersebut, tim peneliti mengkombinasikan hasil observasi KIN pada berbagai panjang gelombang dengan studi sebelumnya yang memanfaatkan Teleskop Antariksa Spitzer dan perangkat Very Large Telescope Interferometer di European Southern Observatory di Chile.

Cakram bagian luar mulai membentuk pada sekitar dimana cakram bagian dalam berakhir dan mencapai jarak sekitar 1.200 AU. Penanda inframerahnya menunjukkan bahwa cakram tersebut terutama tersusun atas partikel debu dengan volume hanya 1 persen dari ukuran debu yang sama di cakram bagian dalam, atau setara dengan partikel pada asap. Perbedaan lainnya: cakram bagian luar terlihat lebih menyebar, hingga jauh keluar dari bidang orbitnya ketimbang cakram bagian dalam.

“Kami menduga bahwa cakram bagian dalam mendorong pengembangan cakram bagian luar,” jelas Kuchner. Saat asteroid dan komet saling berbenturan hingga menghasilkan debu, partikel yang lebih besar secara alami berpilin ke arah bintang. Namun tekanan dari cahaya bintang menekan partikel-partikel yang lebih kecil keluar dari sistem. Proses ini, yang juga terjadi di tata surya kita, nampaknya bekerja lebih baik di sekitar 51 Ophiuchi, bintang yang 260 kali lebih cemerlang daripada Matahari.

Cakram Debu di 51 Ophiuchi

Menggunakan teleskop kembar berdiameter 10 meter di Observatorium W.M. Keck, Hawaii, para astronom telah menemukan salah satu dari cakram debu paling kompak yang mengedari sebuah bintang. Apabila berada di dalam tata surya kita, maka cakram itu akan membentang sekitar empat kali jarak Bumi ke Matahari, hingga mendekati orbit planet Jupiter. Cakram bagian dalam yang kompak tersebut juga ditemani oleh cakram luar yang terentang hingga ratusan kali lebih jauh.

Kunci keberhasilan studi ini adalah Keck Interferometer Nuller (KIN), suatu perangkat yang mengkombinasikan cahaya yang tertangkap oleh masing-masing teleskop raksasa tersebut, sedemikian rupa sehingga memungkinkan para peneliti mempelajari objek redup yang biasanya tenggelam oleh cemerlangnya cahaya bintang di dekatnya. “Ini adalah cakram kompak pertama yang dideteksi oleh KIN, dan menunjukkan kemampuannya untuk mendeteksi kabut debu yang ratusan kali lebih kecil daripada yang bisa dilihat oleh teleskop konvensional,” jelas Christopher Stark, astronom di Goddard Space Flight Center, NASA, di Greenbelt, Madison, yang memimpin tim peneliti.

Dengan menggabungkan pancaran cahaya yang diterima oleh kedua teleskop dengan cara tertentu, KIN pada dasarnya membuat suatu “blind spot” yang menghalangi pancaran cahaya bintang yang tak diperlukan namun memungkinkan sinyal redup yang berdekatan – seperti cahaya dari cakram debu yang melingkupi bintang – untuk menembusnya.

Pada bulan April 2007, tim yang sama mengamati bintang target, 51 Ophiuchi, bintang tipe B yang muda dan panas sejauh 410 tahun cahya di konstelasi Ophiuchus. Para astronom menduga bahwa bintang tersebut beserta cakram yang melingkupinya merepresentasikan contoh yang langka dan dekat dari sistem planeter muda yang sedang memasuki fase terakhir dari pembentukan planet-planetnya, walaupun masih belum diketajio apakah planet-planet tersebut benar-benar telah membentuk.

“Observasi terkini kami menunjukkan bahwa 51 Ophiuchi adalah sistem protoplanet (calon planet) yang indah dengan suatu kabut debut dari komet dan asteroid yang sangat dekat dengan bintang induknya,” timpal Marc Kuchner, astronom di Goddard yang juga anggota dari tim peneliti.

Sistem planeter adalah tempat yang sangat berdebu. Kebanyakan diantara debu di tata surya kita terbentuk didalam garis orbit Jupiter, saat komet-komet mengalami kehancuran di dekat Matahari dan asteroid dalam berbagai ukuran saling berbenturan. Kabut ini merefleksikan cahaya matahari dan sewaktu-waktu dapat dilihat sebagai pendar cahaya di langit – dikenal sebagai cahaya zodiak (zodiacal light) – sebelum matahari terbit atau terbenam.

Kabut debu di sekeliling bintang lain yang terbentuk melalui proses yang sama disebut sebagai kabut “exozodiacal”. “Studi kami menunjukkan bahwa cakram di 51 Ophiuchi lebih dari 100.000 kali lebih tebal daripada kabut zodiak di tata surya kita,” jelas Stark. “Hal ini menunjukkan bahwa sistem ini masih relatif muda, dengan banyak benda angkasa yang saling berbenturan yang menghasilkan sejumlah besar debu.”

Untuk menguraikan struktur dari kabut debu bintang tersebut, tim peneliti mengkombinasikan hasil observasi KIN pada berbagai panjang gelombang dengan studi sebelumnya yang memanfaatkan Teleskop Antariksa Spitzer dan perangkat Very Large Telescope Interferometer di European Southern Observatory di Chile.

Cakram bagian luar mulai membentuk pada sekitar dimana cakram bagian dalam berakhir dan mencapai jarak sekitar 1.200 AU. Penanda inframerahnya menunjukkan bahwa cakram tersebut terutama tersusun atas partikel debu dengan volume hanya 1 persen dari ukuran debu yang sama di cakram bagian dalam, atau setara dengan partikel pada asap. Perbedaan lainnya: cakram bagian luar terlihat lebih menyebar, hingga jauh keluar dari bidang orbitnya ketimbang cakram bagian dalam.

“Kami menduga bahwa cakram bagian dalam mendorong pengembangan cakram bagian luar,” jelas Kuchner. Saat asteroid dan komet saling berbenturan hingga menghasilkan debu, partikel yang lebih besar secara alami berpilin ke arah bintang. Namun tekanan dari cahaya bintang menekan partikel-partikel yang lebih kecil keluar dari sistem. Proses ini, yang juga terjadi di tata surya kita, nampaknya bekerja lebih baik di sekitar 51 Ophiuchi, bintang yang 260 kali lebih cemerlang daripada Matahari.

Untaian Mutiara Kosmik

Teleskop antariksa Herschel baru-baru ini telah menyajikan pemandangan spektakular dari kabut gas yang terbentang di dekat bidang galaksi Bima Sakti. Citra yang diambil mengungkapkan adanya aktifitas yang intens dan tak terduga. Daerah yang gelap dan dingin dengan titik-titik tempat bintang dilahirkan ibarat untaian mutiara kosmik.

Pada 3 September lalu, Herschel diarahkan ke suatu reservoir kabut gas dingin di konstelasi Salib Selatan (Southern Cross) di dekat bidang galaksi. Saat teleskop tersebut memindai langit, perangkat Spectral and Photometric Imaging REceiver, SPIRE, dan Photoconductor Array Camera and Spectrometer, PACS mengambil sejumlah citra dari daerah yang terletak di sekitar 60° dari pusat galaksi, ribuan tahun cahaya dari bumi.

Lima panjang gelombang inframerah telah dikodekan dalam bentuk warna-warni untuk memungkinkan para ilmuwan membedakan material yang sangat dingin (merah) dengan lingkungan sekitarnya yang sedikit lebih hangat (biru).

Citra ini mengungkap struktur pada material di Galaksi kita, dalam bentuk yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Bahkan sebelum ada analisis yang lebih rinci, para ilmuwan telah mengumpulkan informasi mengenai kuantitas material, massa, temperatur, komposisi, dan apakah struktur tersebut sedang runtuh untuk membentuk bintang-bintang baru.

Bahwa area yang gelap dan dingin semacam ini ternyata penuh dengan aktifitas adalah hal yang tak terduga. Namun citra-citra itu juga mengungkapkan adanya gejolak yang mengejutkan: material antarbintang berkondensasi menjadi filamen yang memalar (continous) dan saling terhubung yang berpendar dari cahaya yang dipancarkan oleh bintang-bintang yang baru lahir pada berbagai tingkat perkembangan. Galaksi kita adalah galaksi yang secara konstan melahirkan bintang-bintang generasi baru.

Bintang-bintang terbentuk dari lingkungan yang digin dan padat, dan dalam citra-citra tersebut, mudah untuk menemukan tempat dimana terdapat filamen bintang yang tengah membentuk, suatu pekerjaan yang sangat sulit untuk dilakukan pada citra dengan panjang gelombang tunggal.

Biasanya, dalam daerah yang penuh sesak semacam ini, terletak di bidang galaksi kita dan mengandung banyak kabut molekular sejauh mata memandang, para astronom akan mengalami kesulitan untuk melihat secara lebih detail. Namun instrumen inframerah Herschel yang canggih memudahkan pekerjaan itu, melihat kedalam kabut yang suram dalam cahaya kasatmata, dan menyaksikan pendar dari debu itu sendiri. Observasi ini tidak mungkin untuk dilakukan dengan peralatan yang berbasis di darat.

Hasilnya adalah pemandangan dari struktur jejaring filamen yang menakjubkan, dan fitur-fitur yang mengindikasikan rantai peristiwa formasi bintang yang hampir simultan, gemerlap laksana rangkaian mutiara, jauh di kedalaman galaksi kita. (www.esa.int)

MY DEVIL

Harum sejuk di kala petang merebak palung hati...

Jiwaku rintih di buatnya,. sembari menanti apa..
di mana..
Kapan..

Biar katamu...

Kau tau apa,.!
Ego mu hanya melesat bak komet dungu...
Tak tahu kah engkau....

Tak ada hati dalam renungmu..

Jikalau ada telah gugur lah ia di musim semi..
Di bawahnya kecantikanmu menari...bahagia tak tertahan...
Untukmu....
Untuk semua kekalahanmu..

Aku kaku di buatnya...

MY HEART

Hai kau gadis bermata satu,. Nyaman ku telan seluruh pandangmu,.. Walau sepah tiada rasa..hanya getirnya saja yang membabi buta..

Hai kau gadis bermata satu... Jujurkah adanya pendirianmu...
Hanya satu janjimu,.
Hanya satu inginmu,.
Hanya satu katamu,.
Hanya satu....

Pedulikan aku..tuk jadi arah mu...
Sang penuntun hidup yang melepas mata jauh di angan...
Agar satu... Ku dapat pandanganmu..

Riskan ku jadi benalu... Di kala Liukan angin seakan mencibir dalam taburan debu nan menyapu pandangan..

Aku jatuh,.. Bahagiakah dirimu...
Hai gadis bermata satu...

Jumat, 23 Oktober 2009

MY RAIN

Detik mengambang pelan di keheningan hayal...

Dan merenunglah nak... Sewaktu-waktu tak ada pelukan tersisa untuk kita...
Semata-mata di buang jauh di pelupuk mata... Bak dentik hujan tak merana adanya...
Hanya kini beku..
Hanya kini peluh..
Hanya itu..

Kamis, 22 Oktober 2009

MY GIRL

Lepas sudah layang dari benangnya... Tali-temali tiada guna walau induk di anggap mati...

Pandanglah merpati duhai pujaan...baginya bermain di awan adalah mimpi...
Mimpi para peri tak bersayap putih...

Yang di atas berupa bidadari... Ku anggap itu kau kasih...
Walau cerah hatimu penuh luka.. Milik ku yang tak termiliki...

Biarlah karya ini terluka...agar tumbuh retak dalam pandangan yahudi....

Kita masih jauh dari mimpi...

MY JOB

Aduhai tuan... Malangkah betul nasib kumbang di sapu angin,.
Laksana debu menjadi-jadi terbangnya...

Terkulai lemah lah ia di bawa bumi menuju buih.. Ya penjara kasih indah nian pandangnya...

Sayang seribu sayang,,tak tahu betul apa nasib mau di kekang, di bawa terbang menuju karang,..

Kumbang mati di sorot sang mentari,..telah letih lah ia di beri apa yang ia mengerti... Hingga ajalnya tertatih-tatih...

Ya tuan... Tuntunlah ia menuju kedamaian...
Agar riang tawanya terukir ikhlas di bibirnya..

MY FUTURE

Bak jurang yang tak baik adanya, aku rapuh di ikat usia..

Laksamana pun berlayar susuri samudra..tepian karang jadi saksinya.. Yah.. Hanya janji...

Namun prajurit ini tak kunjung tempur di medan laga... malulah kau nak,. Malang betul adanya manakala secerca cahaya kehidupan kau lewati begitu saja..yah...hanya jejaknya..

Tinggalah usang kau di dekat maut,. menggelantung bangga menyebak nafas dalam rongga yang kau sebut ikrar kehidupan,..

Sadarlah nak,.. Masamu akan punah,..

Selasa, 20 Oktober 2009

MY HISTORY

Dia termenung...
Lalu ku mulai melamun di buai angan semauku..

Dia tersenyum...
Lantas ku buat mereka bisu di injak peluh..

Dia menangis...
Harus ku cipta kata bertingkat sekelas penyair agar tertampung sudah semua ego mu..

Dia pergi...
Hmm..lantas,masih pantaskah ku basuh parasku dengan ego mu..

Diamlah.. Cukup ku bungkam bibir ku.. Tak perlu kau pagut,.ataupun kau lumat..

Aku.,.berdiri sendiri

MY FLOWER

Hai bunga..

Juwita hati merangkak bodoh ketika kau mekar di payungi tuan mentari..

Aku malu..

Benci laksana iblis menghembus bengis dari sisi gelap hati,.seakan mencoba tuk lari dari mu..

Tapi..

Hanya ingin ku petik, lalu berlari sambil mendekap mu & membawa mu ke tepian kasih,.
Biar ku akhiri gelisah ini..

Sabtu, 17 Oktober 2009

Menuju Era Antariksa, Indonesia Berhasil Luncurkan Roket Terbesar

Garut (ANTARA News) - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyatakan, secara umum peluncuran roket RX-420 yang merupakan roket terbesar yang pernah dibuat LAPAN, Kamis lalu, berjalan baik, bahkan memperoleh status "Golden Data".

Seluruh parameter data diperoleh pada sepuluh detik pertama pasca roket diluncurkan dari Stasiun Peluncuran Roket Cilauteureun Pameungpeuk, Garut, yang merupakan Instalasi Uji Terbang LAPAN, kata Kabag Humas LAPAN Elly Kuntjahyowati, Jumat.

Berdasarkan Golden Data, LAPAN dapat melakukan rekonstruksi perilaku terbang roket dengan `error ratio` (rasio kesalahan) lima persen, karena dari produk peluncuran ini teridentifikasi kondisi motor dan bahan bakar roket berjalan dengan baik.

Peluncuran RX-420 adalah tahapan untuk membangun Roket Pengorbit Satelit (RPS) yang diharapkan mengudara pada 2014, ungkapnya.

Chief Engineer RX-420 Lilis Maryani memaparkan, rangkaian uji terbang tersebut dilakukan guna mengetahui spesifikasi teknis, sebelum diterapkan pada RPS, dengan sudut elevasi 700 yang dapat mencapai ketinggian 53 km dengan jarak tempuh 101 km dan kecepatan 4,4 mach.

Menteri Riset Dan Teknologi (Menristek) Dr Kusmayanto Kadiman mengakui, teknologi roket selama ini menjadi program unggulan LAPAN, yang pengembangannya hanya untuk kepentingan damai, atau demi kesejahteraan rakyat seperti pengamatan cuaca dan titik api.

Selain disaksikan Kusmayanto dan Kepala BPPT Marzan A. Iskandar, uji terbang roket terbesar LAPAN ini juga dihadiri wakil dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Departemen Pertahanan, TNI dan Polri, PT Dirgantara Indonesia (DI), dan PT Bukaka.

Sebelumnya, LAPAN berhasil menguji statik RX-420 pada 23 Desember 2008 di Tarogong, Jawa Barat, yang menghasilkan daya 100 ton detik.

LAPAN juga berhasil meluncurkan dua roket berdiameter 320 mm RX-320 pada 2 Juli dan 30 Mei 2008 di Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat.

Elly menjelaskan, RPS yang lima tahun lagi akan diluncurkan Indonesia, terdiri dari empat tingkat masing-masing tiga tingkat RX-420 dan satu tingkat RX-320, sehingga RX-420 diagendakan menjadi booster (roket pendorong) RPS yang semakin dikembangkan LAPAN.

Selain menguji terbang RX-420 dalam rangka penyempurnaan rancang bangun, juga diluncurkan dua unit roket jenis RX-100 yang berdiameter 110 mm, memiliki berat luncur 30 kg dengan panjang 1900 mm, demikian Elly. (*)

Ledakan Bintang 11 Miliar Tahun Lalu Terdeteksi

Jumat, 10 Juli 2009 | 08:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Para astronom mengklaim menemukan ledakan bintang (supernova) terjauh yang pernah terdeteksi, sebuah serpihan bintang raksasa yang terbentuk sekitar 11 miliar tahun silam.

Mengacu pada keyakinan bahwa alam semesta terbentuk 13,7 miliar tahun silam, supernova itu merupakan salah satu fenomena ledakan bintang pertama pada awal-awal penciptaan. Ledakan bintang tertua yang tercatat sebelumnya terjadi sekitar enam miliar tahun lalu.

Temuan terbaru ledakan bintang tersebut dimungkinkan melalui teknik baru, yang memungkinkan para ahli kosmologi (cabang ilmu astronomi yang menyelidiki asal-usul alam semesta) mendeteksi ledakan bintang bermiliar tahun silam. Namun, tidak dijelaskan teknik baru semacam apa yang diterapkan.

Yang jelas, bekas ledakan bintang tersebut terdeteksi setelah para astronom membandingkan banyak gambar yang diambil beberapa tahun lalu dari bagian-bagian langit. Metode perbandingan melalui banyak gambar tersebut memudahkan astronom melihat obyek jagat raya yang berubah cahaya terangnya dari waktu ke waktu.

Ledakan bintang diikuti cahaya yang sangat terang, hingga berjuta-juta kali terangnya dibandingkan dengan terang semula. Saking terangnya, fenomena tersebut dikabarkan dapat terlihat dari galaksi lain yang super jauh.

Supernova sekaligus menandai tamatnya usia bintang yang bersangkutan karena kehabisan bahan bakar. Ketika meledak, bintang mengirimkan gelombang kejut yang bergema di sekitar galaksi.

Ledakan itu mendistribusikan berbagai elemen yang lebih berat daripada oksigen, seperti besi, kalsium, dan silikon, serta memperkaya awan-awan molekuler yang selama berabad lamanya bersama membentuk sistem-sistem bintang baru.

Endeavour Akhirnya Meluncur

Kamis, 16 Juli 2009 | 08:19 WIB

CAPE CANAVERAL, KOMPAS.com — Setelah lebih dari sebulan mengalami penundaan dan lima kali gagal meluncur, pesawat ulang alik Endeavour akhirnya melesat ke luar angkasa. Endeavour meluncur dari Kennedy Space Center, Florida, Rabu (15/7) sore atau Kamis pagi WIB sekitar pukul 05.00.

Peluncuran ini cukup istimewa karena hanya selang beberapa hari menjelang peringatan 40 tahun sejak pertama kali manusia menginjakkan kaki di Bulan, apalagi peluncuran dilakukan di sisi landasan yang sama dengan Apollo 11 saat meluncur pada 16 Juli 1969 silam.

Meski peluncuran berjalan mulus, kegembiraan sedikit terganggu karena terlihat banyak runtuhan saat pesawat melesat. Hasil rekaman video menunjukkan beberapa keping penahan panas di tangki eksternal terlepas dan menghantam badan pesawat 2-3 kali.

"Beberapa goresan terlihat di perutnya, tetapi kami harapkan hanya lecet dan kerusakan minor," ujar Bill Gerstenmaier, Kepala Operasional NASA. Ia mengatakan, para astronot Endeavour akan melakukan pengecekan sebelum pesawat merapat ke Stasiun Antariksa Internasional (ISS), dua hari mendatang.

Hal seperti inilah yang dikhawatirkan NASA sejak kecelakaan Columbia terjadi tahun 2003. Columbia terbakar dan meledak saat pulang karena lubang di sayap akibat terhantam keping penahan panas di tangki eksternal saat peluncuran.

Meski demikian, saat ini NASA sudah siap menghadapi kemungkinan yang sama. Proses pengecekan telah dilakukan secara bertingkat sejak rekaman video saat peluncuran, pengecakan langsung dua kali, dan pemotretan badan pesawat dari ISS. NASA juga sudah mengembangkan teknik reparasi dengan mengembangkan "semen" khusus untuk menutup retakan pada badan pesawat.

"Kami memiliki semua perangkat di hadapan kami dan proses untuk memastikan pesawat ini layak pulang," ujar Gerstenmaier. Endeavour yang berisi tujuh astronot dijadwalkan menjalankan misi selama 16 hari untuk melanjutkan kembali pembangunan ISS yang dijadwalkan selesai tahun 2010.

Misi utama kali ini adalah pemasangan modul ketiga atau yang terakhir dari laboratorium Kibo milik Jepang. Modul ini akan digunakan untuk melakukan penelitian ilmiah di bagian luar ISS. Selain itu, para astronot juga akan melakukan pemasangan baterai baru dan perawatan lainnya. Semuanya akan dilakukan dalam lima kali spacewalk.

Pendaratan di Bulan: Akal Sehat Vs Teori Konspirasi

Rabu, 15 Juli 2009 | 04:43 WIB
Oleh NINOK LEKSONO







KOMPAS.com — Pendaratan di Bulan—yang pertama dilakukan oleh astronot Amerika Serikat, Neil Armstrong, 20 Juli 1969—telah dicatat dalam sejarah sebagai salah satu pencapaian paling besar dari umat manusia. Namun, kini, setiap kali orang ingin merayakannya, berseliweran artikel yang melecehkannya. Kini memang dikenal istilah ”kontroversi pendaratan di Bulan”, atau malah ”The Great Moon Hoax” atau ”Kebohongan Bulan yang Hebat”.

Menurut Dr Tony Phillips, seorang pendidik sains, di situs Science@NASA, semua bermula ketika stasiun televisi Fox menayangkan program TV berjudul Conspiracy Theory: Did We Land on the Moon?, 15 Juli 2001. Sosok yang tampil dalam tayangan itu menyatakan bahwa teknologi Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) pada tahun 1960-an belum mampu untuk mewujudkan misi pendaratan di Bulan yang sesungguhnya. Namun, karena tidak ingin kalah dalam lomba ruang angkasa dalam konteks Perang Dingin, NASA lalu menghidupkan Program Apollo di studio film.

Dalam skenario ini, langkah pertama Neil Armstrong yang bersejarah di dunia lain, juga pengembaraan dengan kendaraan Bulan, bahkan ayunan golf astronot Al Shepard di Fra Mauro (salah satu tempat di Bulan) semua palsu!

Ya, menurut acara TV Fox di atas, NASA menjadi produser film yang bloon 30 tahun sebelumnya (dari saat acara tersebut ditayangkan tahun 2001). Sebagai contoh, pakar dalam acara Conspiracy Theory menunjuk bahwa dalam foto astronot yang dikirim dari Bulan tidak menampakkan bintang-bintang di langit Bulan yang gelap. Apa yang terjadi? Apakah pembuat film NASA lupa menyalakan konstelasi bintang?

NASA menyebutkan, perkara itu sudah dijawab oleh fotografer bahwa memang sulit untuk memotret satu obyek yang sangat terang dan satu obyek lain yang sangat redup di lembar film yang sama karena memang emulsi film pada umumnya tidak punya cukup ”rentang dinamik” untuk mengakomodasi obyek yang sangat berbeda tingkat terangnya. Astronot dengan pakaian angkasanya jadi obyek yang terang, dan kamera yang diset untuk memotret mereka akan membuat bintang-bintang latar belakang terlalu lemah untuk dilihat.

Lainnya yang dipersoalkan adalah foto astronot yang menancapkan bendera di permukaan Bulan, mengapa benderanya seperti berkibar bergelombang? Mengapa bisa terjadi demikian, padahal tidak ada angin di Bulan? Dijelaskan, tidak semua bendera yang berkibar membutuhkan angin. Itu karena astronot—ketika menanam tiang bendera—memutar-mutarnya agar menancap lebih baik. Itu membuat bendera berkibar.

NASA dalam kaitan tuduhan rekayasa pendaratan Bulan ini mempersilakan siapa pun yang tetap meragukan pendaratan di Bulan untuk mengakses situs-situs BadAstronomy.com dan Moon Hoax, yang merupakan situs independen, tidak disponsori NASA. Astronom Martin Hendry dari Universitas Glasgow dalam edisi khusus ”40 Tahun Pendaratan di Bulan” Knowledge yang diterbitkan BBC juga menguraikan lagi tangkisan terhadap Teori Konspirasi.

Akal sehat

Namun, menurut Tony Phillips, bantahan paling baik atas tuduhan Kepalsuan Bulan ini adalah akal sehat. Ada selusin astronot yang berjalan di Bulan antara 1969 dan 1972. Di antara mereka masih ada yang hidup dan bisa memberikan kesaksian. Mereka juga kembali ke Bumi tidak dengan tangan kosong. Astronot Apollo membawa kembali 382 kg batu Bulan ke Bumi.

Kalau orang meragukan batu ini dari Bulan, Ilmuwan Kepala di Sains dan Eksplorasi Planet di Pusat Ruang Angkasa Johnson David McKay menegaskan bahwa batuan Bulan sangat unik, jauh berbeda dengan batuan Bumi. Pada sampel Bulan tadi, menurut Dr Marc Norman, ahli geologi Bulan di Universitas Tasmania, hampir tidak ada tangkapan air di struktur kristalnya. Selain itu, mineral lempung yang banyak dijumpai di Bumi sama sekali tidak ada di batuan Bulan. Sempat ditemukan partikel kaca segar di batuan Bulan yang dihasilkan dari aktivitas letusan gunung berapi dan tumbukan meteorit lebih dari 3 miliar tahun silam. Adanya air di Bumi dengan cepat memecahkan kaca vulkanik seperti itu hanya dalam tempo beberapa juta tahun.

Mereka yang pernah memegang batu Bulan—kalau di AS, seperti yang ada di Museum Smithsonian—dipastikan akan melihat bahwa batu tersebut berasal dari dunia lain karena batu yang dibawa angkasawan Apollo dipenuhi kawah-kawah kecil dari tumbukan meteoroid, dan itu menurut McKay hanya bisa terjadi pada batuan dari planet (atau benda langit lain) dengan atmosfer tipis atau tanpa atmosfer sama sekali, seperti Bulan.

Dalam jurnal Knowledge, Martin Hendry masih mengemukakan sederet tangkisan terhadap argumen yang diajukan oleh penganut Teori Konspirasi, seperti tentang sudut bayangan dalam foto yang aneh. Lainnya lagi yang dijawab adalah mengapa tidak ada kawah ledakan di bawah modul Bulan (yang disebabkan oleh semburan roket modul pendarat); lalu juga mengapa sabuk radiasi Bumi tidak menyebabkan kematian pada astronot? Yang terakhir, mengapa tidak ada semburan bahan bakar yang tampak ketika modul pendarat lepas landas meninggalkan Bulan? Jawabannya karena modul Bulan menggunakan bahan bakar aerozine 50, campuran antara hidrazin dan dimethylhydrazine tidak simetri yang menghasilkan asap tidak berwarna, meski kalau ada warna sekalipun kemungkinan besar juga tak terlihat dengan latar belakang permukaan Bulan yang disinari Matahari.

Masa depan

Kini, umat manusia kembali berada dalam satu lomba angkasa baru. Dalam lomba sekarang ini, Bulan tak hanya menjadi destinasi akhir, tetapi akan dijadikan sebagai batu lompatan untuk menuju destinasi lebih jauh, misalnya Planet Mars.

Tahun 2004, Presiden (waktu itu) George W Bush mencanangkan Kebijakan Eksplorasi Angkasa yang sasarannya adalah kembali ke Bulan tahun 2020 dan selanjutnya ke Mars. Jepang tahun 2005 juga mencanangkan tekad serupa, pada tahun 2025. Kekuatan antariksa lain yang harus disebut dan juga telah menyatakan tekad mendaratkan warganya di Bulan adalah Rusia, China, dan India, juga tahun 2020.

Dalam perspektif inilah terlihat bagaimana bangsa-bangsa besar dunia bekerja keras mewujudkan impian besar. Ruang angkasa sebagai Perbatasan Terakhir (The Final Frontier) tidak saja menjanjikan prestise, tetapi juga masa depan, dan keyakinan bahwa, dengan bisa hadir di sana, ada banyak perkara di Bumi yang akan bisa ikut dibantu penyelesaiannya.

Neil Armstrong Tidak Pernah Mendarat di Bulan?

Senin, 13 Juli 2009 - 11:01 wib

Pendaratan Neil Armstrong di Bulan 40 tahun silam (Foto: Moon Daily).

WASHINGTON - Rumor yang menyebutkan bahwa pendaratan manusia di bulan adalah suatu bentuk teori konspirasi belakangan kembali mencuat. Semakin banyak pihak dan bukti yang menguatkan keraguan Neil Armstrong pernah melakukan pendaratan di bulan 40 tahun silam.

Ada beberapa bukti yang menyebutkan bahwa Armstrong dengan misi Apollo 11 sebenarnya tidak pernah ke bulan. Yang sebenarnya terjadi adalah, Armstrong berada di dalam sebuah studio alam buatan di sebuah tempat di Arizona yang sengaja diseting mirip dengan keadaan di bulan.

Hal ini sengaja dilakukan oleh NASA dan pemerintahan Amerika Serikat untuk menciptakan ketakutan publik dan menyelamatkan imej Amerika yang mulai meredup karena kekalahannya dalam perang Vietnam. Langkah ini juga sekaligus ingin memukul telak Uni Soviet yang kala itu bersaing ketat dengan AS dalam kemajuan teknologi luar angkasa. Demikian keterangan yang dikutip dari Moon Daily, Senin (13/7/2009).

Para pihak yang meragukan berupaya menghantam hal ini dengan memperbanyak teori dan bukti ilmiah yang menguatkan. Di antaranya, mereka memaparkan teori yang menyebutkan bahwa kemungkinan besar para astronot itu akan habis terpanggang terlebih dahulu saat melewati 'sabuk' Van Allen sebelum mencapai bulan.

Dalam sebuah kesempatan yang membahas segala kejanggalan pendaratan manusia di Bulan, salah satu ahli astronomi bernama Phil Plait, mengemukakan kejanggalan foto pendaratan Armstrong. Pada foto yang selama puluhan tahun telah terpublikasi ke seluruh dunia itu, sama sekali tidak nampak keberadaan bintang di langit.

"Tidak ada atmosfir di Bulan, dengan demikian seharusnya bintang-bintang yang terlihat dari langit di Bulan akan bersinar lebih terang," kata Plait.

Plait dan rekan-rekannya juga memberi catatan soal bendera AS yang terlihat berkibar pada foto dan video rekaman. Mereka mengatakan, mustahil bendera tersebut bisa berkibar karena sesungguhnya tidak ada udara

Planet Jupiter Baru Saja Ditabrak Komet

Selasa, 21 Juli 2009 | 12:47 WIB

PASADENA, KOMPAS.com — Planet Jupiter kelihatannya baru saja ditabrak sebuah benda angkasa berukuran besar yang diduga komet. Foto terbaru yang dirilis Badan Antariksa AS (NASA) menunjukkan bukti peristiwa tersebut.

Dalam foto tersebut terlihat sebuah noda putih di atmosfer dekat kutub selatan planet kelima di tata surya itu. Noda tersebut kemungkinan kobaran api yang terbentuk akibat tumbukan tersebut.

Kejadian tersebut direkam para astronom di Laboratorium Propulsi Jet NASA di Pasadena, California AS, Senin (20/7), setelah memperoleh informasi awal dari seorang astronom amatir semalam sebelumnya.

Foto langka yang direkam dari teleskop inframerah di Mauna Kea, Hawaii, itu dirilis bersamaan dengan peringatan 15 tahun tumbukan komet Shoemaker-Levy 9 ke Planet Jupiter.

Bukan Hanya Bumi yang Mengalami...

Senin, 24 Agustus 2009 | 07:42 WIB

Oleh Yulvianus Harjono

KOMPAS.com - Dalam 100 tahun terakhir, temperatur global di planet Bumi meningkat 0,6 derajat celsius. Yang mencengangkan, kondisi senada—pemanasan—ternyata juga terjadi di planet-planet lain dalam sistem Tata Surya dalam waktu yang hampir bersamaan.

Temuan ini merupakan hasil pengamatan yang dilakukan para ilmuwan: astronom dan astrofisikawan, selama dua dasawarsa terakhir pada planet-planet tetangga Bumi yang ada di orbit Matahari, sumber energi utama kehidupan di Bumi.

Neptunus, planet intersolar terjauh dengan jarak rata-rata 4.450 juta kilometer dari Matahari, adalah salah satu yang mengalami fenomena turbulensi iklim ini. Dari hasil fotometri rutin oleh Observatorium Lowell di Amerika Serikat, sejak 1980 hingga sekarang Neptunus makin terlihat cemerlang.

Dari hasil pemantauan inframerah, seperti diungkapkan HB Hammel dan GW Lockwood, permukaan planet berwarna biru ini terus memanas dalam kurun waktu dua dasawarsa terakhir. Fotometri menunjukkan kenaikan signifikan. Dari sebelumnya 7,97 magnitude (mag) pada 1950 menjadi 7,81 mag di 2004. Semakin rendah angka magnitude, semakin cemerlang planet yang diamati.

Gejala sama terjadi di Triton, satelit alamiah terbesar yang mengelilingi Neptunus. Terhitung sejak 1989, suhu di permukaan Triton memanas signifikan hingga 5 persen dari skala temperatur absolut planet ini—setara kenaikan 22 derajat Fahrenheit.

Berdasarkan pemantauan wahana Voyager pada 1989, Triton memiliki suhu dingin ekstrem, yaitu rata-rata minus 392-389 derajat Fahrenheit (minus 200-198 derajat celsius). Namun, tren pemanasan ini mengakibatkan sebagian permukaan Triton yang terdiri dari nitrogen beku berubah menjadi gas. Ini membuat atmosfernya yang terkenal tipis menjadi kian tebal.

Seperti dikutip dari jurnal Nature, James L Elliot, astronom dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), mengungkapkan, perubahan iklim di salah satu bulan Neptunus ini terjadi sekali dalam beberapa ratus tahun akibat perubahan absorpsi energi solar di kutub-kutub es Triton.

Badai raksasa di Yupiter

Tren perubahan iklim juga terjadi di Yupiter, planet terbesar tata surya. Science Daily, Mei 2008, melaporkan, dalam dua tahun terakhir sebelum laporan dirilis, terjadi peningkatan aktivitas badai raksasa di atmosfer Yupiter. Teleskop Hubble menangkap citra yang menunjukkan terbentuknya titik merah (red spot) baru di planet ini.

Badai besar berukuran hingga 0,5 miliar mil ini kemudian disebut ilmuwan sebagai ”Red Spot Jr”. Badai yang tergolong langka ini terbentuk dari hasil penggabungan tiga badai oval berwarna putih pada kurun waktu 1998-2000. Hal serupa pernah terjadi seabad lalu, yaitu ketika terbentuk ”Great Red Spot” berukuran dua kali Bumi.

Menurut Phillip S Marcus, profesor dinamika fluida dari University of California, Berkeley, Yupiter mengalami perubahan iklim, yaitu suhu permukaan meningkat sebesar 10 derajat celsius. Kawasan ekuator menghangat, sementara wilayah di dekat kutub selatan semakin dingin. ”Aktivitas awan di sana dalam dua setengah tahun terakhir menunjukkan hal yang dramatis, sesuatu yang tidak lazim telah terjadi,” ujar Phillip.

Saat belum ada penjelasan yang utuh dan menyeluruh soal benang merah terjadinya perubahan iklim di planet-planet intersolar ini, astronom juga mengungkapkan, planet kerdil (Pluto) mengalami tren perubahan iklim senada. Apalagi, Pluto yang dicoret statusnya sebagai planet terletak sangat jauh dari Matahari, yaitu 6 miliar kilometer atau sekitar 40,5 satuan astronomi atau sekitar 40 kali jarak Matahari-Bumi. Tekanan atmosfer Pluto diketahui meningkat tiga kali lipat sejak akhir 1980-an. Diperkirakan, suhu permukaan ikut meningkat rata-rata 2 derajat celsius.

Padahal, tidak ada aktivitas manusia yang menimbulkan efek rumah kaca di sana. Lantas, apa penyebab perubahan temperatur di sejumlah planet dan obyek tata surya ini dalam waktu yang hampir bersamaan?

Matahari disalahkan

Mencoba memberikan benang merah, Habibullo Abdussamatov, Kepala Bidang Penelitian Luar Angkasa di Observatorium Astronomi St Petersburg, Rusia, mengklaim, aktivitas Matahari-lah yang memengaruhi perubahan temperatur di Bumi dan sejumlah planet.

”Efek rumah kaca yang ditimbulkan manusia berkontribusi pada pemanasan di Bumi dalam beberapa tahun terakhir. Tetapi, itu tidak bisa menyamai dampak akibat meningkatnya iradiasi Matahari,” tuturnya.

Abdussamatov merujuk kepada pengalaman di Mars untuk memperkuat dalilnya yang kontroversial ini. Puluhan tahun terakhir ini permukaan Mars diketahui memanas dengan sangat cepat, yaitu empat kali dari laju pemanasan global di Bumi.

Mars, seperti halnya Bumi, diketahui pernah mengalami zaman es. Namun, lapisan es yang menyimpan karbon dioksida (CO) dalam jumlah besar di wilayah dekat kutub selatan Mars telah mencair sangat cepat. Dari 1970 hingga 1990 tercatat, temperatur udara di Mars meningkat 0,65 derajat celsius.

Hammel dan Lockwood juga ikut memperkuat koneksi faktor iradiasi Matahari dengan gejala perubahan iklim di Neptunus. Menurut mereka, koefisien relevansi antara tingkat iradiasi Matahari dan angka kecemerlangan Neptunus mencapai 0,90 atau nyaris sempurna.

Korelasi ini ikut dihubungkan dengan gejala anomali perubahan temperatur di Bumi. Data yang mereka peroleh menunjukkan, variasi perubahan iradiasi Matahari ternyata berbanding lurus pula dengan tren kenaikan suhu di Bumi.

Perubahan energi yang dipancarkan Matahari termasuk beragam variasinya, baik ultraviolet, kosmik, dan inframerah, sangat berkorelasi dengan perubahan temperatur di tiap planet, termasuk Bumi.

Dampak di tiap planet ditentukan faktor lokal, yaitu variasi kemiringan orbit, albedo (kemampuan merefleksikan kembali radiasi sinar ke atmosfer), dan aktivitas geologis seperti erupsi gunung berapi. Aktivitas manusia, yaitu efek rumah kaca, termasuk faktor lokal ini.

Meskipun demikian, mayoritas peneliti menolak anggapan sesuai uraian di atas.

Michaell Mann, meteorolog dari Penn State, Amerika Serikat, menuturkan, perubahan aktivitas Matahari dan segala variasinya hanya memengaruhi 0,1-1 persen iklim di Bumi. Tak cukup kuat untuk memicu perubahan iklim dramatis di Bumi.

Apalagi, tingkat keaktifan Matahari memiliki periode tiap 11 tahun dan saat ini masih dalam fase nonaktif. Sangat jarang terlihat bintik Matahari, salah satu indikator turunnya keaktifan Matahari, akhir-akhir ini.

”Mereka yang tidak bisa menerima eksistensi faktor antropologis (aktivitas manusia) terhadap perubahan iklim, terus mencoba mengarahkannya ke aktivitas Matahari,” ucap Penn.

Jejak Astronot Terlihat di Bulan

Senin, 24 Agustus 2009 | 16:28 WIB

KOMPAS.com — Foto-foto terbaru dari wahana penjelajah Bulan milik NASA sepertinya bakal mengakhiri perdebatan, apakah astronot AS benar-benar pernah mendarat di Bulan. Foto-foto yang diambil dari kamera wahana Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) itu menunjukkan jejak-jejak kaki dua astronot Apollo yang berusaha mencapai sebuah kawah di Bulan.

Foto tersebut memperlihatkan dataran di sekitar lokasi pendaratan Apollo 14, tempat astronot Alan Shepard dan Edgar Mitchell menjejakkan kaki di bulan pada 5 Februari 1971 menggunakan pendarat Antares.

Foto yang diperlihatkan minggu lalu itu menunjukkan bahwa kedua astronot sempat mendekati bibir kawah Cone Crater pada jarak sekitar 30 meter sebelum mereka memutuskan untuk kembali lagi.

Sekilas, foto tersebut memperlihatkan permukaan bulan yang polos tanpa ada tanda-tanda kehadiran manusia. Namun, jika diamati lebih detail, terlihat beberapa jejak pendaratan Antares dan keberadaan astronot yang tampak di sisi kiri bawah foto. Jejak sepatu Shepard dan Mitchell terlihat sedikit lebih gelap dibanding dataran sekitarnya.

Wilayah bulan yang dieksplorasi Shepard dan Mitchell dalam misi Apollo 14 adalah daerah berbukit dan berbatu yang disebut dataran tinggi Fra Mauro. Misi ini adalah yang ketiga dari enam kali pendaratan Apollo ke Bulan antara 1969 dan 1972.

LRO sebelumnya sudah mengirimkan foto lokasi pendaratan Apollo 14 serta daerah yang dikenal sebagai Tranquility Base, lokasi pendaratan pertama di Bulan. Tranquility Base didarati astronot Apollo 11 pada 20 Juli 1969.

Perburuan Cone Crater

Pada 6 Februari 1971, pada perjalanan kedua dari kunjungan selama 33 jam di Bulan, Shepard dan Mitchell mencoba mencapai Cone Crater untuk melihat bagian dasarnya. Kawah itu berada sekitar 1,4 km dari Antares sehingga pendarat tersebut tidak terlihat oleh para astronot. Selain itu, kawasan yang berbukit menyebabkan perjalanan menjadi melelahkan.

Lebih parah lagi, Shepard dan Mitchell kesulitan mendaki di permukaan Bulan yang lembut. "Masalah lainnya, ketidakstabilan permukaan di daerah itu membuat mereka kesulitan menandai lokasi yang akan mereka lalui," tulis Shepard yang meninggal tahun 1998. "Ed dan saya kesulitan memutuskan, jalan mana yang akan kami tempuh, seberapa jauh kami sudah berjalan, dan di mana kami saat itu."

"Dan kemudian datanglah saat paling membuat frustrasi dalam perjalanan itu. Kami mengira sudah dekat dengan kawah. Namun ternyata, kami berada di tepi kawah lain yang lebih kecil, dan masih agak jauh dari Cone Crater," tulisnya. "Saat itu kami menghubungi Houston (pusat pengendali misi) dan memberi tahu posisi kami meragukan."

Keduanya akhirnya tidak melanjutkan perjalanan menuju Cone Crater dan kembali ke pendarat Antares.

Pada foto LRO, salah satu penanda lokasi yang disebut Saddle Rock—sebelumnya pernah difoto oleh Shepard dan Mitchell—bisa terlihat. Dari foto itu tampak betapa dekat sebenarnya para astronot dari tujuan mereka.

Saat Shepard dan Mitchell berjalan di permukaan Bulan, rekan mereka, Stuart Roosa, mengorbit Bulan dalam modul komando. Mereka meninggalkan Bulan pada 6 Februari 1971 dan kembali ke Bumi tiga hari kemudian.

Planet Berbatu Pertama di Luar Tata Surya Ditemukan

Kamis, 17 September 2009 - 12:33 wib
text TEXT SIZE :
Share
Rachmatunnisa - Okezone
(Foto: CNN)

WASHINGTON - Penemuan terbaru di dunia sains ini akan membuka jalan menuju pemahaman yang lebih luas tentang pengetahuan mengenai tata surya. Ilmuwan baru saja menemukan sebuah planet berbatu pertama di luar tata surya Bumi.

"Ini adalah penemuan pertama keberadaan planet berbatu di luar sistem tata surya kita," kata astronom Artie Hatze yang dikutip dari CNN, Kamis (17/9/2009).

Planet yang dinamakan CoRoT-7b ini pertama kali diketahui keberadaanya melalui satelit CoRoT, sebuah teleskop berukuran 30 cm yang diluncurkan oleh European Space Agency pada awal 2008. Misi CoRoT ini memang dikhususkan untuk mencari planet berbatu di luar sistem tata surya kita.

Namun butuh waktu satu bulan melakukan observasi untuk menentukan bahwa planet tersebut memiliki komposisi mirip dengan Bumi.

Menurut Hatze, ciri-ciri fisik planet ini sangat berbeda dengan planet lain seperti Jupiter dan Saturnus yang penuh dengan gas. Komposisi planet tersebut kemungkinan besar mirip dengan Bumi, namun lingkungan kawasan planet tersebut lebih nampak bagaikan neraka.

Diperkirakan temperatur suhu disana berkisar diatas 3.600 derajat Fahrenheit atau setara dengan 2.000 derajat Celsius pada siang hari. Sementara jika malam tiba, suhunya berada pada -328 derajat Fahrenheit atau -200 derajat Celsius.

Hatzes menjelaskan, salah satu sisi dari bagian tubuh planet tersebut selalu menghadap matahari sementara sisi lainnya cenderung menjauhi matahari. Sisi yang menghadap matahari kemungkinan nampak mencair sedangkan sisi lainnya bisa jadi mengandung es yang berasal dari air yang membeku andaikan di planet tersebut terdapat air.

Mereka kemudian dibantu oleh fakta bahwa CoRoT-7b relatif dekat dengan Bumi dengan jarak sekira 500 tahun cahaya dalam peta bintang Monoceros, Unicorn. CoRoT-7b pun kemudian disebut sebagai planet terkecil yang pernah ditemukan di luar sistem tata surya Bumi. (rah)

Misteri Ledakan Di langit BONE Terpecahkan

Pada tanggal 8 Oktober 2009, sekitar pukul 11.00 WITA, warga kabupaten Bone mendengar sebuah ledakan di langit disertai asap memanjang yang menggantung selama beberapa menit. Hingga kini, otoritas setempat belum bisa memberikan kepastian mengenai sumber ledakan. Namun sebuah tulisan di sebuah media mengatakan bahwa misteri itu telah terpecahkan. Menurutnya ledakan itu adalah akibat pesawat sukhoi yang sedang mengadakan latihan. Benarkah ?


Dalam dua hari ini, saya mendapat beberapa permintaan untuk menulis mengenai ledakan Bone. Jadi kali ini saya memutuskan untuk menulis mengenai hal itu. Tulisan ini tidak bermaksud menjawab misteri ledakan itu. Namun saya akan mengemukakan apa yang percayai. Ini hanyalah pendapat pribadi seorang awam.

Informasi-informasi berikut ini saya kumpulkan dari beberapa media, terutama okezone.com, kompas.com dan detik.com. Karena rata-rata media lain juga memuat hal yang sama, maka saya hanya memfokuskan pada tiga media tersebut.

Bagi yang belum mengetahui soal ledakan itu, inilah kronologi peristiwa tersebut :

Waktu Ledakan
Ledakan misterius itu terjadi sekitar pukul 11.00 WITA. Warga kabupaten Bone mendengar ledakan itu sebanyak 4 kali. Walaupun ada juga yang hanya mengatakan 1 kali. Namun paling tidak kita mengetahui bahwa memang terjadi ledakan di udara. Ledakan ini juga terdengar di Gowa dan Wajo.

Deskripsi Saksi Mata
Selain ledakan, terlihat asap putih memanjang di langit yang diperkirakan berasal dari ledakan tersebut. Ini berhasil direkam oleh kamera ponsel seorang warga yang bisa kita lihat ditayangkan di berbagai stasiun televisi.

Saksi lain, seorang wanita, 30 tahun, bernama Nina Amir mengaku melihat sebuah objek berbentuk bola api dengan ekor jatuh disertai dengan suara ledakan saat ia melintasi jembatan kembar di Gowa.

Menurut warga lain, dinding-dinding rumah mereka bergetar dan ini dikonfirmasi dengan catatan yang dipantau oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sulawesi Selatan yang mencatat adanya gempa kecil berskala 1,9 skala Richter dengan sumber di sekitar teluk Bone.

Korban Jiwa
Hingga saat ini, tercatat ada satu korban jiwa yang berhubungan dengan peristiwa ini, yaitu seorang anak perempuan berumur 9 tahun yang terjatuh setelah mendengar ledakan. Menurut sumber disekitarnya, kemungkinan ia mengalami serangan jantung karena kaget.

Pendapat Otoritas Terkait
Pada awal terjadi laporan ledakan dan kepulan asap di langit, penduduk lokal mengira bahwa ledakan tersebut berasal dari pesawat sipil atau militer yang jatuh. Namun setiap pesawat yang tinggal landas pasti memiliki catatan penerbangan yang dilaporkan ke pihak terkait. Kali ini, otoritas setempat tidak mengumumkan adanya pesawat yang jatuh. Demikian juga TNI AU.

Jadi kita bisa mengabaikan teori ini.

Dibawah ini adalah teori-teori yang dikemukakan oleh otoritas terkait :

Staf BMKG Sulawesi selatan, Made Widiada yang diwawancarai oleh Okezone mensinyalir bahwa ledakan tersebut merupakan ledakan yang berasal dari gempa berskala kecil. (okezone). Namun teori ini tidak menjawab misteri kepulan asap panjang yang terlihat.

Kepala seksi data dan informasi stasiun meteorologi bandara sultan Hasanuddin, Hanafi Hamzah, mengatakan kepada detikcom bahwa ledakan tersebut kemungkinan diakibatkan oleh petir. Menurutnya saat ini adalah transisi dari musim kemarau ke hujan. Karena itu di langit terdapat banyak partikel awan yang dapat menimbulkan suara seperti letusan. (detikcom). Tapi teori ini juga tidak menjawab mengenai kepulan asap panjang yang terlihat.

Komandan Lanud Sultan Hasanuddin, Marsekal Ida Bagus Putu Dunia mengatakan kepada okezone bahwa kemungkinan penyebab ledakan adalah pesawat Sukhoi TNI AU yang sedang latihan pada sekitar waktu terjadi ledakan. Pada waktu itu ada enam pesawat TNI AU yang sedang latihan, yaitu 3 Sukhoi, 2 Boeing dan 1 Helikopter yang sedang melakukan latihan rutin di kabupaten Takalar, 80 km dari Makassar. Menurutnya, pesawat Sukhoi yang latihan bisa menimbulkan sonic boom.

Sonic Boom adalah sebuah gelombang kejut yang diakibatkan oleh pergerakan sebuah objek yang mencapai kecepatan suara (1.225 km/jam). Sonic boom menghasilkan energi dalam jumlah besar yang dapat terdengar seperti suara ledakan.

Jawaban marsekal Ida Bagus Putu Dunia ini dimuat oleh Okezone.com dalam artikel yang berjudul "Ledakan misterius Bone ulah latihan Sukhoi" dengan kalimat utama berbunyi :

JAKARTA - Misteri ledakan keras yang mengagetkan masyarakat Kabupaten Bone Sulawesi Selatan kemarin terpecahkan.

Namun anehnya, ketika saya membaca artikel tersebut, saya tidak melihat kasus ini terpecahkan karena di paragraf-paragraf berikutnya disebut bahwa pesawat Sukhoi yang latihan tidak melebihi kecepatan suara, maka tidak mungkin terjadi sonic boom. Lagipula Marsekal Putu Dunia tidak mau berkomentar ketika ditanya tentang adanya kepulan asap yang terlihat.

Jadi judul artikel di okezone kontradiktif dengan isinya. Misteri ledakan Bone belum terpecahkan !

Menurut saya, sepertinya teori-teori diatas (gempa, petir dan pesawat latihan) diatas tidak sesuai dengan deskripsi para saksi mata. Kita tahu bahwa para saksi mata melihat atau mendengar adanya :

1. Bola api bercahaya
2. Suara ledakan yang menimbulkan getaran.
3. Jejak asap yang terekam kamera

Karena itu, berdasarkan deskripsi tersebut, menurut saya teori yang paling sesuai adalah teori yang dikemukan oleh Lapan. Kepala peneliti utama astrofisika lembaga penerbangan dan antariksa nasional (lapan), Dr Thomas Jamaluddin kepada detikcom mengatakan sejak awal bahwa sumber ledakan tersebut kemungkinan adalah meteorit. Ini kutipannya :

"Kan ada ledakan dan cahaya membara, analisis sementara itu meteorit yang jatuh dan bergesekan dengan lapisan atmosfir," kata peneliti utama astronomi-astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Dr Thomas Jamaluddin kepada detikcom, Kamis (8/10/2009)."(detikcom)

Pendapat Lapan ini didukung oleh kepala Observatorium Bosscha, Taufik Hidayat. Ini kutipan dari detikcom :

"Ciri-cirinya seperti meteor. Meteor bisa seperti itu," jelas Kepala Observatorium Bosscha Taufik Hidayat melalui telepon, Kamis (8/10/2009). Menurut dia, meteor bisa menimbulkan efek ledakan kalau berukuran cukup besar dan cukup padat. Asap itu seperti jejak dan bola api terjadi karena dalam keadaan kencang, kemudian pecah menjadi beberapa segmen. Ledakan ini pun menimbulkan getaran karena dia menimbulkan gelombang kejut," terangnya. (detikcom)

Namun Kepala Planetarium Bosscha tidak setuju dengan pendapat ini. Ini kutipan dari okezone :

"Kepala Planetarium Boscha, Moedji Raharto menilai kecil kemungkinan jika benda yang menghasilkan ledakan keras tersebut berasal dari benda asing atau meteor. "Karena pasti akan berpapasan dengan alat orbit bumi. Di mana pukul 10.00-11.00 kepala bumi sedang berada di lintasan sejajar dengan matahari. Kalaupun ada, pasti benda tersebut akan meledak di angkasa," kata Moedji saat dihubungi okezone di Jakarta, Kamis (8/10/2009). Apalagi, lanjut Moedji, sangat jarang terjadi ada meteor yang masuk ke bumi pada pagi hari." (okezone)

Hanafi Hamzah yang percaya bahwa ledakan itu dari petir juga mengemukakan hal yang sama. Ini kutipan dari detikcom :

"Hanafi juga sempat ditanya soal kemungkinan suara ledakan itu berasal dari meteor. Menurut Hanafi, kemungkinan tersebut sangat kecil. "Dari sisi meterologi dan geofisika, kecil kemungkinan suara tersebut berasal dari meteor. Sebab meteor pasti akan terbakar dan habis sebelum sampai ke Bumi," ujar Hanafi. (detikcom)."

Saya akan menjawab dua keberatan ini di akhir tulisan ini.

Sekilas mengenai Meteor
Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya condong ke teori Lapan bahwa sumber ledakan itu adalah meteor. Tapi sebelum itu, mari saya luruskan sesuatu. Di internet beredar sebuah foto (walaupun tidak beredar terlalu luas, tapi cukup menggangu) yang disebut sebagai foto Ledakan Bone yang tertangkap kamera. Ini fotonya :


Sebenarnya, ini bukan foto ledakan Bone !

Hal ini jelas terlihat dari dua hal :

Pertama, ledakan Bone terjadi sekitar pukul 11.00 WITA Siang. Foto itu menunjukkan kondisi malam hari yang gelap.

Kedua, lihat logo di sebelah kanan bawah pada gambar no.1 yang ada tulisan "Global". Bagi yang sekilas melihat mungkin akan mengira bahwa gambar itu diambil dari Global TV. Tapi logonya jelas berbeda dengan logo Global TV. Saya belum pernah melihat logo tersebut.

Jadi berdasarkan dua poin kecurigaan tersebut, saya mulai melacak sumber foto tersebut. Saya menemukannya di Arsip Kompas.com tanggal 29 November 2008. Foto tersebut adalah foto meteor yang jatuh di langit Edmonton, Kanada, pada awal November 2008. Jadi bukan foto ledakan Bone. Klik disini untuk melihat artikel tersebut.

Karena itu mari kita lupakan foto tersebut. Saya akan membahas soal alasan saya mempercayai bahwa sumber ledakan itu adalah meteor.

Karena saya bukan ahli meteor, yang saya lakukan hanyalah mencari peristiwa-peristiwa lain di dunia yang memiliki deskripsi seperti yang diceritakan oleh penduduk Bone. Banyak peristiwa dengan deskripsi diatas terjadi di seluruh dunia, dan para ahli mengatakan bahwa hal itu disebabkan oleh meteor.

Ini beberapa contohnya :

Maryland, Amerika, 29 Maret 2009, 9:45 PM. Saya kutip :

"A spokesman for the center said Tuesday morning: “If it was a meteorite, we don’t track that kind of thing.” The bright fireball, which was followed one or two minutes later by an enormous booming sound, was seen by many people between Maryland and North Carolina."

Klik disini untuk sumber lengkapnya.

Norwegia, Juni 2006, 2:05 am. Saya kutip :

"I saw a brilliant flash of light in the sky, and this became a light with a tail of smoke," Bruvold told Aftenposten.no. He photographed the object and then continued to tend to his animals when he heard an enormous crash. I heard the bang seven minutes later. It sounded like when you set off a solid charge of dynamite a kilometer (0.62 miles) away." Bruvold said."

klik disini untuk sumber lengkapnya.

Alaska, Januari 2009, 3:30 pm. Saya kutip :

"A tremendous explosion, like a sonic boom, drew people outside, where they watched irregular contrails scribe paths in a clear sky."

klik disini untuk sumber lengkapnya.

Oh ya, bagi yang belum tahu, contrails adalah jejak asap di langit.

Deskripsi para saksi ini sangat mirip dengan ledakan Bone. Masih ada banyak peristiwa yang saya temukan mirip dengan ledakan Bone, namun karena saya tidak mau tulisan ini menjadi panjang, saya memutuskan hanya memuat tiga diantaranya.

Kesimpulan
Meteor yang bergerak dengan kecepatan tinggi dapat menimbulkan sonic boom, sama seperti pesawat yang bergerak dengan kecepatan suara. Menurut para ahli, meteor seukuran bola basket saja dapat menimbulkan sonic boom. Meteor tersebut masuk ke atmosfer bumi dan terlihat seperti bola api akibat gaya gesekan dengan udara. Akibat gesekan itu juga meteor tersebut akan pecah menjadi serpihan-serpihan. Jadi kalaupun ada, pecahan yang berhasil menyentuh bumi kemungkinan hanyalah berbentuk meteorit yang kecil sehingga akan sangat sukar ditemukan. inilah yang mungkin telah terjadi di Bone pada tanggal 8 Oktober kemarin.

Tapi mungkin anda bertanya, bagaimana dengan pendapat Moedji Raharto yang mengatakan bahwa sangat jarang meteor jatuh pada pagi hari ?

Jawaban saya sederhana. Moedji Raharto mengatakan "jarang", bukan "tidak mungkin". Lagipula saya menemukan contoh-contoh di dunia dimana meteor jatuh ke bumi pada pagi/siang hari.

Lalu bagaimana dengan jawaban pak Hanafi Hamzah yang mengatakan bahwa kecil kemungkinan ledakan itu berasal dari meteor karena meteor pasti akan terbakar habis sebelum sampai ke bumi ?

Jawaban saya adalah : Meteor tidak selalu terbakar habis sebelum sampai ke bumi. Meteor yang berhasil mencapai permukaan bumi disebut Meteorit.

Jadi saya tetap percaya bahwa ledakan tu bersumber dari meteor. Tapi seperti yang saya bilang, ini cuma pendapat seorang awam.

Gambaran Terbaru Struktur Bima Sakti

Semula, galaksi Bima Sakti digambarkan sebagai sebuah struktur spiral dengan empat lengan yang tersusun atas bintang-bintang, masing masing adalah lengan Norma, Scutum-Centaurus, Sagittarius, dan Perseus. Selain itu terdapat pula pita gas dan debu di daerah pusat galaksi. Matahari kita terletak pada sebuah lengan kecil yang disebut lengan Orion, yang terletak diantara lengan Sagittarius dan Perseus.

Model yang disusun berdasarkan observasi radio tahun 1950-an terhadap gas-gas dalam galaksi ini bertahan hingga mengalami revisi pada tahun 1990-an. Berdasarkan hasil dari large infrared sky survey, ditemukan keberadaan pita besar yang terdiri dari bintang-bintang di tengah galaksi Bima Sakti. Sinar inframerah dapat menembus debu, dan dengan demikian teleskop yang dirancang untuk mengumpulkan sinar inframerah dapat melihat lebih jelas kedalam pusat galaksi yang dipenuhi debu dan aneka macam objek.

Berikutnya, pada 2005, para astronom mulai menggunakan detektor inframerah pada teleskop antariksa Spitzer untuk memperoleh informasi lebih rinci mengenai pita tersebut. Sekelompok astronom yang dipimpin oleh Robert Benjamin dari University of Wisconsin menemukan bahwa pita yang terentang dari pusat Galaksi ke arah luar tersebut lebih luas dan lebih panjang dibanding yang diperkirakan sebelumnya.

Mereka memperoleh citra inframerah terbaru dari Bimasakti yang menunjukan galaksi ini terentang 130 derajat di sepanjang langit dan satu derajat merentang dari bidang galaksi menuju ke atas dan bawah. Mosaik ini terdiri dari 800.000 gambar yang diambil dan menampilkan lebih dari 110 juta bintang.


Gambaran terbaru mengenai struktur Bima Sakti. Dua lengan utama (Scutum-Centaurus dan Perseus) menyatu dengan ujung pita di pusat galaksi. Dua lengan kecil (Norma and Sagittarius) kelihatan lebih redup. Matahari kita terletak di Lengan Orion, sebuah lengan kecil yang berada di antara lengan Sagittarius dan Perseus. (Gambar: NASA)

Benjamin lantas mengembangkan perangkat lunak khusus untuk menghitung bintang-bintang tersebut serta mengukur kerapatannya. Perhitungan yang dilakukannya pada lengan Scutum-Centaurus menunjukan peningkatan jumlah bintang dibanding yang seharusnya ada di suatu lengan spiral. Sementara pengukuran pada lengan Sagittarius dan Norma tidak menunjukan adanya peningkatan jumlah bintang. Lengan ke-4, yakni lengan Perseus yang menyelubungi bagian terluar Bimasakti, tidak dapat dilihat dalam citra terbaru yang diambil Spitzer.

Penemuan ini menunjukkan bahwa galaksi Bima Sakti memiliki dua lengan spiral, sebagaimana struktur pada galaksi berpita pada umumnya. Lengan utama tersebut, lengan Scutum-Centaurus dan Perseus, memiliki kerapatan terbesar yang tersusun atas bintang-bintang muda dan terang serta bintang-bintang yang lebih tua yang dikenal sebagai raksasa merah (red-giant stars). Benjamin menyatakan bahwa kedua lengan utama tersebut terlihat berhubungan dengan bagian terdekat dan terjauh dari pita utamanya.

“Kini, kita dapat menyatukan kedua lengan tersebut dengan pita utama, seperti menyusun sebuah puzzle,” jelas Benjamin. Observasi inframerah sebelumnya menemukan petunjuk mengenai kedua lengan tersebut. Namun hasilnya tidak begitu jelas karena posisi dan lebar lengan masih belum diketahui.

Sekalipun lengan galaksi tampak sebagai fitur yang lengkap, namun pada kenyataannya bintang di dalamnya secara konstan terus bergerak keluar dan masuk di dalam lengan tersebut. Hal ini disebabkan oleh pergerakan bintang-bintang tersebut saat mengorbit pusat galaksi.

Matahari pun sekali waktu akan berada pada lengan yang berbeda. Dan sejak ia terbentuk 4 milyar tahun yang lalu, Matahari telah mengitari pusat galaksi sebanyak 16 kali. (spitzer.caltech.edu)

Jumat, 16 Oktober 2009

MY CLOCK

Lagi...
Lagi...
Lagi...
Jenuh ku mengambang lagi!!

Layaknya jarum merah "sang penakluk waktu",.
Ku benci dirimu wahai jarum..

Munafik betul kau!!
Belum sampai habis letih ku, tapi kau buat mentari kembali..
Lagi!!

MY LOVE

Masih ingatkah dulu..

Di waktu romansa cinta nampak hitam & putih..

Sst..!!
Jangan dulu kau bicara bilamana dirimu berhendak tuk hilang dari pandangan..

Bunga surga jatuh kembali,.
Akhirnya derasnya emosi terjatuh dari pandangan..

My love..
I hope you still a live...

MY LIVE

Ku letakan bahuku di atas tanah..

Ku relakan pandangan ku lepas entah kemana..

Ku hayalkan diriku memeluk angkasa..

Ku sadari...

Akh..!!

Itu hanya sebuah memori,.tak urung juga memaksa mata ku tuk memandang hal tak bermoral,.

Ku mohon dengar..Ibu.. Bangunkan aku dari tidur lelap ku..

BADAI ANTARIKSA 2012 VS KIAMAT

Isu yang belakangan ini memang selalu membuat kita bergidik, rasanya kehidupan di bumi ini sudah semakin singkat, faktor yang menyebabkannya adalah dari perkiraan tekhnologi modern yang sudah sangat akurat ditambah dengan perkiraan manusia yang katanya bisa memprediksi kapan terjadinya hari yang mengenaskan tersebut.
Walaupun sebegitu akuratnya data yang diterima baik itu di buktikan dengan perangkat modern atau kepercayaan sekelompok orang, satu hal yang saya katakan disini adalah data yang terakurat ada pada sang pencipta yang tahu kapan dan waktunya DIA berbuat sesuatu.
Salah satu yang memberikan data yang akurat tersebut adalah suku Maya yang disebut mempunyai ilmu Falak dan Sistem Penanggalan Yang Akurat dan disebutkan bahwa akan muncul gelombang galaksi yang besar sehingga menimbulkan terhentinya semua aktivitas di bumi. Seperti yang di beritakan bahwa akan ada badai yang disebut Badai Antariksa dan berbagai dampaknya kepada bumi.
Akibat dari Gelombang Galaksi tersebut adalah :
Pertama : Terjadi ledakan di permukaan atmosfer Matahari yang menimbulkan badai Antariksa
Kedua : Miliaran ton gas superpanas berisi partikel dilontarkan ke luar angkasa
Ketiga : Sebaran partikel ini dapat menyebabkan gangguan navigasi/magnet pada bumi
Keempat : Gangguan pada sistem Satelit, Sistem Pembangkit Listrik dan gangguan pada Frekuensi Radio.
Saat ini, setelah berita ini di munculkan, para ahli dibidang sains, kedirgantaraan, penerbangan maupun ahli antariksa, membuat suatu antisipasi dengan cara membangun sistem pemantau cuaca, yakni pantauan meliputi lapisan ionosfer, geomagnetik dan gelombang radio.
Namun apapun yang terjadi pada masa yang akan datang, niscaya Maha Pencipta sudah terlebih dahulu memberikan peringatan dan himbauan kepada manusia dan masih sangat segar bila di ingat tahun 2000 lalu dimana dikabarkan bahwa sistem komputer dan lainnya akan kembali ke angka Nol jika masuk ke tahun 2000 tersebut, buktinya pada masa itu tidak terjadi sesuatu yang berarti.Semuanya yang terjadi pada masa ini dan pada masa yang akan datang adalah sesuatu rencana namun jikalau sang Pencipta belum mau melakukannya, pasti akan tidak terjadi sesuatu.
Diterbitkan di: Nopember 26, 2008
Link yang relevan :

* http://badai antariksa,partikel,atmosfer,ionosfer,gelombang radio ...

Kamis, 15 Oktober 2009

My firs posting

Assalamualaikum Wr.Wb,.
Ini adalah postingan blog pertama saya..
Saya bertujuan untuk bisa berjelajah dalam dunia maya,.dan juga lebih mampu memadai lagi dalam dunia informatika.
Maju terus anak bangsa indonesia!